Tentang Perencanaan

Bukannya saya pelit. Saya cuma merasa bahwa setiap proyek apapun, baik yang bersifat komersial ataupun senang-senang harus terencana. If you fail to plan, you plan to fail.

Saya sendiri ga ngerti kenapa kultur kerja di daerah sini beda banget kalo dibandingkan apa yang sudah berkali-kali saya kerjain di Jogja. Militan sih iya, rela berkorban banget, tapi ga terorganisir. Banyak hal yang muncul di tengah jalan yang lewat dari asumsi perencanaan awal. Kalo cuma satu-dua si ga masalah, tapi kalo banyak, dan sampai-sampai ada anggapan bahwa dalam hal kayak gini itu wajar banyak urusan-urusan yang tiba-tiba muncul buat saya kurang tepat.

Apalagi masalah uang. Saya sudah menikah, dengan penghasilan yang mungkin lebih kecil dibanding beberapa temen-temen se-kepanitiaan. Di dalam rumah tangga saya yang melakukan perencanaan keuangan, mengatur optimalisasi excess cash ke dalam deposito (syariah), mengatur pelunasan hutang, mengatur zakat/infaq/shadaqah dan sebagainya, saya bikin gimana caranya excess cash rumah tangga kami berada dalam kondisi minimum agar kami terdorong untuk berhemat. Tidak hemat-hemat banget, tapi juga tidak boros-boros banget. Saya nilai cukup.

Dalam kondisi seperti itu, setiap kali dinas tau sendiri gimana pola pembayaran tempat saya bekerja. 2-3 bulan baru reimburse. Artinya selama 2-3 bulan saya, termasuk istri, harus memutar otak untuk kembali menghitung working capital kami sehingga cukup untuk 3 bulan ke depan. Memang ada deposito, memang ada beberapa investasi lain, tapi apakah saya harus merelakan investasi itu kemudian cair, dimana untuk deposito jika dicairkan tidak pada waktunya akan ada denda/uang hilang yang harus saya bayar, hanya untuk sesuatu yang seharusnya tidak saya bayar melainkan perusahaan bayar?? Sekali lagi saya bukan pelit. Ini masalah perencanaan, kalo perencanaannya baik ga mungkinlah harus ada uang pribadi yang keluar. Kalo perencanaannya baik kita faham resiko-resiko dan mitigasi yang bisa dilakukan.

Jika ada beberapa kebutuhan yang tiba-tiba muncul dalam kepanitiaan dan ada beberapa anggota panitia yang faham betul bahwa “menalangi dulu” itu harus dilakukan, maka silakan lakukan.

Tapi jangan mengukur kaki kita dengan sepatu yang orang lain gunakan.

Seperti yang saya sampaikan bahwa uang saya bukan uang saya sendiri, itu uang istri saya juga, uang rumah tangga kami yang sudah kami rencanakan sebulan bahkan beberapa bulan sebelumnya penerimaan dan pengeluarannya.

Jangan heran jika dalam kepanitiaan saya terlihat kaku dan strict sama pengeluaran, bahkan dalam kehidupan dan rumah tangga saya sendiri saya ga bisa mengeluarkan uang jika bukan karena terpaksa atau faham betul bahwa pengeluaran tersebut masih berada dalam koridor besar perencanaan awal dengan deviasi standard yang juga tidak terlalu besar.

Sudah seharusnya kita berbenah. Lama-lama energi itu juga bakal habis jika kita “tidak faham bagaimana kondisi jalur pendakian di depan”. Akan lebih efisien jika kita faham betul bagaimana jalur pendakiannya, bagian mana yang menurun terjal, bagian mana yang mendakik curam, bagian mana yang becek lembab, bagian mana yang gersang, kapan kita bisa jalan cepat, dan kapan kita harus istirahat.

Bahkan ada satu slogan, “kejahatan yang terorganisir akan dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”.

Saya merasa sudah melakukan sesuatu yang benar, jadi mohon maaf bagi beberapa orang yang mungkin risih atau muak sama sikap saya. Tapi ini harus saya lakukan. Karena saya yakin, ini benar.

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: